Fukis dan Fancong
Ini tidak bermaksud menyinggung sara
. Begini lho, ada beberapa daerah di wilayah nusantara ini, yang mana penduduknnya tergolong sulit melafalkan “F” atau “V“. Biasanya akan dilafalkan “EP” atau “PE“. Jadi ketika akan mengatakan “Family” menjadi “Pamili“, atau “Novi” menjadi “Nopi“. Dan, terkadang sebaliknya. Ketika huruf atau kata itu mesti dilafalkan “P” malah dilafalkan “Ef” atau “Fe“. Yang kocak, hal ini terbawa sampai ke tulisannya. Misalnya, “Nova” menjadi “Nopa“, dan sebagainya.
Ada seorang penjaja kue, menggunakan gerobak. Setiap pagi lewat di depan rumah. Beliau ini menjajakan kue Pukis dan kue Pancong. Daaaaaaaaan … di gerobaknya tertulis: “FUKIS DAN FANCONG“. Itulah nusantara, dengan keanekaragamannya.




Ha ha ha.. tapi mas biasanya kalo yang melafalkan P menjadi Fe itu biasanya sodara kita yang keturunun Arab dan masih kental Arabnya seperti “wan Abud” atau ada juga orang asli Indonesia yang ke-Arab-Arab-an…
seperti ada ustadz yang saya kenal melafalkan P menjadi Fe
Ada juga orang keturunan Betawi melafalkan akhiran “kan” menjadi “pan”
Darmo
April 30, 2008