Fukis dan Fancong

Posted on April 30, 2008. Filed under: Bahasa, Jungkir Balik |

Ini tidak bermaksud menyinggung sara :) . Begini lho, ada beberapa daerah di wilayah nusantara ini, yang mana penduduknnya tergolong sulit melafalkan “F” atau “V“. Biasanya akan dilafalkan “EP” atau “PE“. Jadi ketika akan mengatakan “Family” menjadi “Pamili“, atau “Novi” menjadi “Nopi“. Dan, terkadang sebaliknya. Ketika huruf atau kata itu mesti dilafalkan “P” malah dilafalkan “Ef” atau “Fe“. Yang kocak, hal ini terbawa sampai ke tulisannya. Misalnya, “Nova” menjadi “Nopa“, dan sebagainya.

Ada seorang penjaja kue, menggunakan gerobak. Setiap pagi lewat di depan rumah. Beliau ini menjajakan kue Pukis dan kue Pancong. Daaaaaaaaan … di gerobaknya tertulis: “FUKIS DAN FANCONG“. Itulah nusantara, dengan keanekaragamannya.

Make a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

One Response to “Fukis dan Fancong”

RSS Feed for DHW WebloG Comments RSS Feed

Ha ha ha.. tapi mas biasanya kalo yang melafalkan P menjadi Fe itu biasanya sodara kita yang keturunun Arab dan masih kental Arabnya seperti “wan Abud” atau ada juga orang asli Indonesia yang ke-Arab-Arab-an…
seperti ada ustadz yang saya kenal melafalkan P menjadi Fe

Ada juga orang keturunan Betawi melafalkan akhiran “kan” menjadi “pan”


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.